|
Mungkinkah Menghilangkan Sinetron Yang Menjual
Mimpi? |
||||
| Archive Code: 02/SB/1 | ||||
| Stress, putus asa dan tertekan begitulah kira-kira imej yang pantas untuk menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Himpitan hidup yang menjadi-jadi membuat mereka semakin apriori terhadap masalah sekitar. Konsep pandangan manusia adalah serigala bagi manusia lain menjadi pedoman hidup mereka. Seolah-olah tidak ada kasih sayang dan cinta kasih di dalam diri masing-masing mereka. Gejala-gejala sikap tersebut sangat kentara terlihat saat ini. Hidup penuh persaingan dan pertandingan siapa yang kuat dan pandai dialah yang menang. Tekanan hidup saat ini semakin menghimpit dengan dicabutnya subsidi Pemerintah terhadap fasilitas dan kebutuhan vital mereka yang menyebabkan semua harga naik. Mulai dari kenaikan BBM, beras hingga tarif angkutan, rekening listrik dan telepon. Prediksi melorotnya pertumbuhan ekonomi beberapa waktu ke depan akan memicu 'kekisruhan' dengan tidak tersalurkannya tenaga kerja yang menyebabkan semakin tingginya angka pengangguran dan kriminalitas. Begitulah kira-kira hukum alam yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
Bila membaca dan membandingkan antara kolom tajuk rencana dengan artikel opini Warta kota edisi 11 Januari 2002, seakan ada ketimpangan dalam pembahasan tema. Di satu sisi tajuk rencana membahas seputar pernyataan Presiden di depan pengurus Parsi tertanggal (9/1/2002) bahwa sinetron hanya menjual mimpi. Sedangkan di lain sisi artikel opini berbicara tentang kriminalitas akibat dari tekanan hidup. (Widibyo : 2002, 8). Dalam tajuk rencana dibahas tentang kontroversi kehidupan sinetron Indonesia yang tidak masuk akal. Lebih lanjut juga disinyalir tema yang disajikan remeh temeh, seperti seputar masalah cinta, konflik keluarga, perselingkuhan dan lain-lain yang dapat dikategorikan tidak membangun karakter masyarakat yang sehat. Apalagi ditambah dengan adanya kuis dan sayembara diakhir cerita yang menjadi perangsang pemirsa untuk tetap hadir menyaksikan tayangan tersebut. Dari semua pemaparan deskripsi tersebut, apakah benar kehadiran sinetron bergaya glamour, kemewahan, hedonis dan kuis tidak perlu? Apakah memang semua itu hanya sampah saja yang akan mengotori benak pemikiran masyarakat kita? Apa imbasnya bila sinetron dihapuskan atau dipisahkan dari aspek ekonomi bisnis televisi? Bercermin dari kacamata masyarakat sebagai pemirsa sebenarnya mereka tidak menginginkan sepenuhnya sinetron yang bertema kehidupan sehari-hari. (Wartakota, 12/1/2002). Hal ini bila berpijak pada asumsi bahwa manusia Indonesia semakin stress dan putus asa dan tertekan seperti penuturan di awal tulisan.Menurut hemat pemikiran penulis malah kehadiran sinetron yang menjual mimpilah yang sangat diperlukan mereka saat ini. Masyarakat telah muak dengan kondisi kehidupan sehari-hari yang tak menentu dengan kondisi ekonomi yang 'morat marit' juga kehidupan politiknya yang tak jelas. Melalui penayangan sinetron semacam itu berarti kita membiarkan mereka 'hanyut' dalam kehidupan utopis bawah sadarnya.Dimana bunga-bunga bermekaran, burung-burung bernyanyi dan awan berwarna biru, semua hidup serba kecukupan dengan keglamouran, kemewahan dan extravaganza-nya. Begitulah kira-kira nuansa yang dapat |
dihadirkan dan memuaskan ruang batin imajinasi
mereka. Kesemua itu bisa dihadirkan hanya lewat sebuah kotak elektronis ajaib yang bernama
televisi. Adanya karakter dan penokohan yang jelas dan lugas dengan urutan skenario yang
sistematik, mudah dicerna tak bertele-tele adalah ciri unik sinetron yang digemari
masyarakat.Penyampaian nilai kehidupan, bahwa yang baik pasti menang dan yang jahat pasti kalah adalah pesan moral yang biasanya
disampaikan. Keberhasilan aktor dan artis memerankan, mengolah mimik dan menjiwai peran menyebabkan mereka dielu-elukan dan diidolakan oleh masyarakat Indonesia. Mengidolakan dan menjadikan mereka sebagai panutan merupakan kondisi yang menggejala saat ini di masyarakat
kita.
Apakah masyarakat menanggapi panggung-panggung kehidupan lain seantusias dunia selebritis saat ini? Misalnya panggung politik Indonesia. Pada kenyataannya tidak. Disinyalir Masyarakat telah lama meninggalkan tribun bangku kehormatan sebagai penonton panggung politik Indonesia. Bagi mereka panggung politik yang diselenggarakan oleh negara hanyalah sesuatu yang abstrak dengan peran-peran penokohan yang tidak jelas dan penuh pura-pura. Seakan-akan lakon yang dimainkannya klasik, terkesan kuno dan pakemnya sangat konvensional. Sesekali terlihat skenarionya seperti diulang-ulang dan sangat membosankan dan memuakan mereka. Drama-drama sandiwara politik yang pernah dimainkan pemerintah sebelumnya, seperti Soeharto, Habibi, dll seolah-olah dimainkan kembali saat ini, seperti: ketidakjelasan hukum, ketidakbecusan aparat dan hilangnya keadilan dan kesamarataan masyarakat. Klasiknya skenario dan tidak adanya kedewasaan berpikir adalah sebab utama mengapa panggung politik begitu memuakan dan ditinggalkan masyarakat. Kemuakan inilah yang membuat dunia politik Indonesia bangkrut, bangkrut dari perhatian dan pengaruh kepada masyarakat. Umpamanya saja, bila politisi berbicara dan membuat pernyataan pastilah masyarakat menanggapinya dengan biasa-biasa saja. Sebaliknya bila selebritis melontarkan pernyataan mereka menyambutnya dengan penuh antusias dan penuh ketertarikan. Buktinya lihat saja acara-acara yang menampilkan para selebritis tidak pernah sepi dengan pemirsa dan peminat. Ada anekdot bahwa lambat laun negara Indonesia akan berubah wujud menjadi negara selebritis dimana ketua Parfi menjadi ketua MPR/DPR-nya dan Rano Karno si 'Doel' menjadi Presidennya. Hal ini terjadi karena mendarahdagingnya kehadiran sinetron di hati masyarakat Indonesia. Banyaknya pemirsa atau penonton berarti uang bagi pengusaha. Semakin banyak ysng menonton berarti semakin banyak yang akan terbujuk dengan rayuan pariwara-pariwara yang disisipkan pada waktu jeda di sela-sela tayangan sinetron. Begitulah kira-kira konsep sederhananya bila ditilik dari aspek ekonomi dan bisnis. Terbujuknya pemirsa oleh pariwara akan mengarahkan pada tingginya anemo masyarakat dan semakin tingginya angka pembelian produk atau jasa yang ditawarkan. Di lain sisi kehadiran produser yang siap membiayai pembuatan sinetron memicu semangat baru bagi insan-insan sinetron |
Indonesia untuk mengembangkan dan menuangkan ide dan kreativitasnya karena ada sokongan dana yang
dimaksud. Sisipan kuis dan sayembara di akhir cerita ternyata tidak menganggu bagi para
pemirsa. Bahkan sebagian pemirsa yang awam menganggap bahwa itu adalah wujud nyata para selebritis membagi-bagikan rezekinya dan peduli kepada
penggemarnya. Begitu dermawannya mereka dibuktikan dengan membagi hadiah
(uang) sebegitu besarnya tanpa memandang bulu si penggemar. Dalam kuis dan sayembara tersebut tidak akan ditanyakan dari partai manakah
dia? Golongan apa dia? Dari keluarga siapakah dia? dan lain-lain. Tinggal tekan nomor telepon tertentu
tersambung, apabila bisa menjawab beberapa pertanyaan hadiah akan dapat langsung
diterima. Begitulah yang ada dibenak mereka, kaum selebritis lebih peduli dan memiliki realisasi sikap kepada masyarakat dari pada para
politisi.
Apakah hubungan yang mesra antara insan sinetron dengan pengusaha seperti ini harus dihilangkan? Bila kebijakan itu dilakukan Pemerintah, berapa besar dana yang harus disediakan dan disetorkan untuk memberikan subsidi bantuan pembuatan sinetron di Indonesia? Penulis rasa pemerintah tidak akan mampu mengakomodir semua pembuatan sinetron di Indonesia. Menyoal masalah perubahan tema dan pakem sinetron dari kehidupan maya mereka yang serba 'wah' yang dianggap menyejukkan batin ke kehidupan yang nyata sehari-hari sepertinya tidak mungkin. Mana mau mereka menyaksikan tayangan televisi yang tidak menghibur ruang batin mereka. Mereka sudah muak dengan kontroversi kehidupan sehari-hari, apakah sinetron televisi juga akan menampilkan kegiatan tersebut yang nota bene telah mereka hadapi 'santap' sejak bangun tidur pagi hari hingga tertidur kembali pada malam hari. Bila hal itu dilakukan juga, lambat laun sinetron Indonesia akan ditinggalkan oleh pemirsanya. Mereka 'berbondong-bondong' beralih mengkonsumsi tayangan sinetron impor yang dapat memuaskan batin mereka seperti Brazil, Amerika, Jepang dan lain-lain. Alhasil proses akulturasi akan terjadi dan yang ditakutkan mereka akan semakin lupa akan nilai-nilai ketradisian mereka sendiri. Dari pemaparan ini semua, maka penulis menghimbau agar direnungkan kembali perlu tidaknya penayangan sinetron yang menjual
mimpi. Apakah itu hanya membentuk keirihatian para insan politik akan begitu besar perhatian dan pengaruhnya sinetron dan kaum selebritis bagi masyarakat Indonesia? Bila memang
demikian, mengapa para negarawan dan politisi saat ini tidak menciptakan iklim panggung politik dan kenegaraan yang sehat dan ideal menurut keinginan luhur amanat penderitaan
rakyat? Mampukah mereka membuat kondisi politik yang digandrungi masyarakat seperti mereka menggandrungi
sinetron? (Dimuat di Warta Kota, 17 Januari 2002) |
||