Perangi Narkoba Dengan Perpustakaan Masjid 
oleh Ilham Prisgunanto*

Archive Code: 02/P/2
Dekadensi moral dan bobroknya tingkah laku remaja saat ini amat kentara di tengah derap perkembangan modernisasi. Kesalahan pola didik dan asuh oleh pendidik dan orang tua adalah tersangka nomor satu penyebab merosotnya masalah tersebut. Maraknya penggunaan narkoba yang mengarah pada penyimpangan tingkah laku seks dan gaya hidup hedonis yang serba konsumerisme adalah barometer nyata merosotnya moral remaja. Oleh sebab itu tidaklah heran bila dengan bergesernya tingkah laku tersebut menyebabkan konsumsi narkoba remaja semakin besar. Diakui bahwa meningkatnya angka konsumsi dan pemakaian penyalahgunaan narkoba akhir-akhir ini cukup memprihatinkan dan merepotkan aparat dalam upaya pemberantasannya. (Warta Kota 27/02/2002). Solusi yang diberikan adalah mengarahkan remaja ke masjid dengan maksud mengembalikan keyakinan mereka akan agama dan pendekatan diri kepada Allah SWT begitulah kira-kira yang dilontarkan beberapa media akhir-akhir ini (Radar Depok, 26/Th.I/1-7/3/2002). Tapi apakah hal tersebut mudah dilakukan? Apalagi melihat stereotipe masjid dan tempat ibadah yang dianggap kaku dan kolot oleh sebagian besar remaja. Stimulus apa yang dapat merespon minat remaja untuk datang ke masjid atau tempat ibadah?

Fenomena logis yang terjadi di kota-kota besar saat ini adalah masjid bukanlah merupakan pusat kegiatan umat, namun hanyalah sebagai tempat ibadah belaka. Hubungan yang terjadi di masjid dan musholla hanyalah bersifat vertikal manusia dengan Tuhan saja, tidak lebih. Hilang dan dilupakannya fungsi-fungsi masjid sebagai pusat pembinaan dan pengembangan kualitas umat Islam adalah masalah yang cukup pelik dalam hal ini. Oleh sebab itu tak heran bila dirasakan saat ini masjid dianggap tak mampu melayani kebutuhan umat terutama dalam pendidikan agama, keterampilan, pusat informasi, kebudayaan, kesehatan dan lain-lain. 

Mengubah imej dan mengembalikan fungsi-fungsi sosial masjid adalah kunci utama agar masjid makin dicintai dan digandrungi oleh remaja. Pembuatan dan menghidupkan kembali program perpustakaan masjid adalah salah satu cara untuk menghilangkan imej buruk tersebut. Namun saat ini sayangnya minim sekali perhatian Pemerintah dan pengelola masjid untuk hal yang satu ini. Padahal bila kita menengok 10 tahun yang silam Pemerintah begitu gencar mencanangkan pengembangan perpustakaan masjid guna peningkatan sarana dan pengembangan mesjid itu sendiri. (Kompas, 5 Februari 1991). Diharapkan dengan pengembangan perpustakaan masjid umat Islam akan bangkit dan bersemangat mengembankan Iptek dan budi pekerti yang pernah dikembangkan pada masa keemasan para khalifah dahulu pada tahun 891 silam di Cordoba. Masih ingatkah kita akan nama-nama perpustakaan Baitul Hikmah, Al Haidiriah, Sabur, Ibnu Suwar dan Darul Hikmah (1991:2) ? Di saat itulah perpustakaan masjid menjadi ajang penting bagi para kaum cendikia untuk mengkaji literatur demi kemaslahatan umat dan negara. Oleh karenanya tidaklah heran bila 

masa keemasan tersebut diidentikan dengan zaman buku dan literatur pada masa khalifah Abbasiah Harun ar Rasyid (786-813 M) (1990:8). 

Dari uraian sejarah tersebut di atas jelas diakui bahwa perpustakaan masjid sangat berfaedah untuk memotivasi dan menguggah rasa kecintaan pada agama, pengetahuan dan bangsa. Pencanangan program perpustakaan masjid lalu yang kandas di tengah jalan akibat kurang seriusnya semua pihak yang terlibat, seharusnya tidak memupuskan harapan. Penulis dalam hal ini yakin, bila program tersebut dilaksanakan secara sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang cukup menggembirakan.

Oleh karenanya dalam kesempatan ini penulis menghimbau agar Pemerintah mau menengok kembali dan mensponsori kembali program pengembangan perpustakaan masjid dimaksud. Bayangkan misalnya di Jakarta terdapat 50.000 mesjid dan 10.000 musholla, berapa banyak masyarakat yang terlayani kebutuhan informasinya dengan keberadaan perpustakaan masjid dalam jumlah tersebut? Terpenuhi kebutuhan informasinya berarti ada upaya menuju penciptaan lapangan pekerjaan baru dan pengentasan kemiskinan. Dengan adanya perpustakaan ini para remaja dan anak-anak akan semakin cinta dan gandrung datang ke masjid. Ini berarti akan semakin mudah terserapnya informasi keIslaman dan hilangnya imej masjid hanyalah sebagai tempat ibadah yang kolot dan konservatif. Ada beberapa kendala teknis klasik yang dirasakan cukup 'mengganjal' dalam upaya pengembangan perpustakaan masjid sampai saat ini. Seperti; dana, kaderisasi pengurus, kurangnya sarana dan minimnya literatur. Menurut Nedi dalam artikelnya tentang "Pengalaman mendirikan perpustakaan masjid" (Pembimbing pembaca 7/1988, 10). Masalah kaderisasi yang ulet jarang sekali ditemukan dalam pengelolaan perpustakaan masjid. Dalam hal pengelolaan yang diperlukan bukan hanya pendidikan formal, namun lebih pada kepemilikan jiwa keidealisan tinggi. Sedangkan menurut Sutejo dalam tulisannya tentang "Pengalaman mengelola perpustakaan musholla" (Pembimbing pembaca 8/1989, 6). Masalah keminiman literatur adalah kendala utama bagi musholla terpencil. Tapi diakui dalam hal pemasukkan finansial, perpustakaan musollah sangat membantu memberikan masukan 'kocek kas' musholla lewat uang sewa dan iuran anggota selain dari kotak amal. 

Mencermati kendala-kendala tersebut di atas pada masa sulit seperti saat ini penulis memberikan masukkan agar dunia perpustakaan masjid mau berswadaya dengan langkah-langkah sebagai berikut. Dalam hal kaderisasi, perlu diberikannya kursus singkat dan pembinaan serius seputar ahlak, manajemen dan organisasi sistem perpustakaan dan telematik yang tidak lupa ditambah dengan kemahiran berbahasa asing, seperti; Inggris dan Arab, dan lain-lain. Sedangkan untuk keminiman koleksi literatur dapat ditanggulangi dengan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak seperti, pengusaha, pustakawan (IPI) 

dan Pemerintah (perpustakaan nasional), LSM, Partai politik dan lain-lain dalam bentuk konsorsium. Kehadiran teknologi telematik, VCD (video compact disk) dan DVD (digital video disk) dan bahan multimedia lain dapat mendongkrak respon kegandrungan remaja ke masjid. 

Pengusaha selain beramal mereka dapat mempromosikan barang dan jasanya ke perpustakaan masjid. Misalkan pengusaha komputer dan pengelola ISP memberikan layanan gratis atau potongan setengah harga bagi pemakai jasa mereka di perpustakaan masjid, Begitu juga dengan penerbit buku, majalah, surat kabar dan lain-lain. Pengusaha bahan multimedia seperti VCD dan DVD dapat memberikan pemutaran film original (asli) secara cuma-cuma yang mendidik dengan maksud melawan aksi para pembajak film VCD dan DVD mereka. Berarti di sini ada usaha serius guna menanamkan upaya kesadaran pengakuan HAKI (hak atas kekayaan intelektual) yang semakin dilupakan oleh orang Indonesia saat ini. 

Kehadiran film, koneksi internet dan segala kecanggihan teknologi dengan bimbingan dari pustakawan masjid tentunya akan memberikan nuansa baru terhadap imej masjid yang kolot dan konservatif. Di satu sisi ditunjukkan adanya upaya pembentukkan benteng moral dan perwujudan 'jihad' nyata melawan virus-virus pengaruh negatif modernitas dari kalangan masjid dan ulama.
Caranya dengan memberikan kemasan tayangan dan informasi tandingan yang terkontrol dari ahli-ahli informasi, yakni pustakawan dan ulama. Di lain sisi para orang tua dan pendidik dapat bernafas lega dan tidak khawatir meninggalkan anak-anak mereka pergi ke masjid karena adanya pengontrol tersebut. Alhasil tujuan akhir dari masalah meningkatnya ketahanan moral dan jati diri remaja yang ditandai dengan merosot dan nihilnya angka penggunaan Narkoba di seluruh negara Indonesia terwujud. 
*Penulis adalah Asisten pengajar Jurusan Ilmu Perpustakaan, FSUI.

Bibliografi:

"Ada Kontradisi dibalik ABG Modernis", Radar Depok 26/Th.I 1-7 Maret 2002.

Hadi, Abdul. W. "Masa Keemasan Islam Adalah Masa Keemasan Buku, Pelita, 28 Oktober 1990.

Latif, Saiful. "Perpustakaan Masjid Zaman Khalifah", Jumat, jumat kelima Maret 1991.

Nedi, Linah. "Pengalaman Mendirikan Perpustakaan Masjid". Pembimbing pembaca 7 (1988).

"Pembinaan Perpustakaan Masjid Dikukuhkan oleh Menteri Agama", Pelita, 4 Juni 1992.

"Presiden buka MTQ XVI: Umat Islam Harus Tingkatkan Kualitas", Kompas, 5 Februari 1991.

Sutejo. "Pengalaman Mengelola Perpustakaan Musholla". Pembimbing pembaca 8 (1989). 

Tajuk Rencana, "Pemberantasan Narkoba Bagaikan Menggusur gunung". Wartakota 27/2/2002.

Dimuat di

Suara Kota,
46/Thn.I/11-17 Maret 2002

Back To Title Page