Apakah Pejabat Publik Kita Mengidap Penyakit C.A?
oleh. Ilham Prisgunanto*

Archives Code: 02/K/5
Pernahkah anda gemetar ketika berbicara atau tangan anda berkeringat dingin bahkan sangat gelisah ketika berkomunikasi dengan orang lain atau khalayak? Bila hal itu terjadi berarti anda mengidap suatu penyakit yang bernama Communcation Apprehension yang lebih lanjut disingkat CA atau dalam istilah ilmu komunikasi ditafsirkan dengan keengganan manusia untuk berkomunikasi (Littlejohn, 102). Konsepsi CA dikenal sejak tahun 1970-an di Amerika Serikat yang dikembangkan lebih lanjut oleh James McCroskey dan rekan-rekannya. Banyak orang takut berkomunikasi, sehingga tak jarang sikap yang timbul adalah berusaha untuk menghindari aktivitas berkomunikasi itu sendiri, baik secara verbal maupun non verbal. Kondisi ini disinyalir akibat adanya pengaruh dari proses psikologis dan kognisi sosial individu sejak mereka kecil. CA ini memang sangat manusiawi dan terjadi umum pada setiap diri manusia pada ambang batas tertentu. Bila CA ini sampai tidak terkontrol yang terjadi adalah munculnya kesulitan-kesulitan manusia dalam berinteraksi. Dalam perjalanan perkembangan penelitiannya penyakit CA menjadi sesuatu yang serius dan telah banyak pola penanganan penyembuhannya, melalui terapi pengobatan jiwa secara intensif. 

Perhatikan kondisi kecenderungan pemerintah kita saat ini, sepertinya ada stereotipe di benak masyarakat bahwa pemimpin mereka, seperti Presiden, Gubernur, Walikota dan Pejabat teras Pemkot lain adalah sosok si 'pembungkam' yang enggan berkomunikasi dengan siapapun, termasuk warganya. Apakah mereka telah mengidap penyakit dimaksud? Bila memang hal ini terjadi, beliau-beliau hendaknya sudi untuk melakukan rehabilitasi diri melalui terapi komunikasi, baik lewat para ahli psikiater dan komunikasi. Bayangkan ketika seorang Walikota sebagai public figure yang jarang sekali tampil dan bahkan berbicara terhadap respon-respon polemik yang terjadi di masyarakat, apa yang akan terjadi? Masyarakat akan berusaha menafsirkan sendiri gerak-gerik, kedipan mata, senyuman ataupun unsur gerak kinesik lainnya sebagai bahasa non verbal dalam berkomunikasi. Apakah sang pemimpin mereka marah, senang, suka dan tak suka? Bagi mereka kesemua hal itu sangatlah absurb atau tidak transparan sama sekali. Bangsa Indonesia terkenal dengan pola masyarakat kolektivistiknya, dimana segala sesuatu ditafsirkan dengan sistem simbol yang pada akhirnya mereka sangat rentan untuk terjebak pada pola penafsiran lambang dan simbol yang lebih berbau stereotipe. 

Berbicara penafsiran berarti 

berbicara meaning atau makna, sedangkan makna itu sendiri begitu luas dalam setiap kepala manusia. Rata-rata mereka memiliki penafsiran tersendiri terhadap sesuatu hal, begitulah kira-kira konsepsi tentang meaning (makna) oleh Grossberg (1994:15). Bila demikian berarti ketika proses penafsiran terjadi di dalam benak manusia, akan ada transfer belief (kepercayaan) yang berarti faktor kognisi latar belakang pengalaman dan pemikiran manusia turut menentukkan kemungkinan munculnya makna itu sendiri. Berarti dalam hal ini makna yang diciptakan dalam berkomunikasi tetap diserahkan sepenuhnya kepada si penafsir. 

Bayangkan ketika seorang pemimpin misalnya sang Walikota Depok tidak mau berbicara sedikitpun pada masyarakatnya dan hanya menampilkan komunikasi dalam gerakan tubuh saja. Alhasil masyarakat Depok sebagai penerima informasi akan berusaha menafsirkan sendiri-sendiri transfer komunikasi gerak tubuh Walikota tadi sesuai dengan latar pengalaman, pendidikan dan belief yang mereka miliki. Padahal belum tentu sang pemimpin itu bermaksud berkomunikasi lewat gerakan tubuhnya, bisa saja hal itu tak disengaja dilakukan olehnya. Oleh karenanya ada sebagian ahli komunikasi yang meragukan bahasa kinesic sebagai pola berkomunikasi, begitulah kira-kira isi teori kinesic (Birdwhistell, 1970: 183). Meskipun demikian ada juga sebagian ahli komunikasi berpendapat, bahwa bahasa non verbal ini adalah bahasa terjujur yang pernah ada karena tidak terselimuti oleh manipulasi pihak komunikator dalam berkomunikasi. Ketika komunikator 'mengernyitkan' dahi, tersenyum, cemberut, menguap dan lain-lain mungkin kesemua itu dilakukan secara refleks tanpa harus dikendalikan oleh sensor motorik yang ada dan prosesnya berlangsung di bawah alam sadar mereka. Akibatnya akan tergambar nyata isi hati dan jiwa sebenarnya dari sang komunikator.

Karena begitu kompleksnya proses pemaknaan dan penafsiran terhadap